WILASA ABHIMANGGALA: Artikel Buddhist
Tampilkan postingan dengan label Artikel Buddhist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Buddhist. Tampilkan semua postingan

WAISAK (VESAK): Sejarah, Makna, dan Relevansi dalam Tradisi Buddhis

 WAISAK (VESAK): Sejarah, Makna, dan Relevansi dalam Tradisi Buddhis

1. Definisi dan Nama Hari Raya Waisak

Hari Raya Waisak (bahasa Sansekerta Vaisakha, bahasa Pali Vesakha) adalah perayaan paling penting dalam kalender Buddhis yang dirayakan oleh jutaan umat Buddha di seluruh dunia. Dalam tradisi Theravada, perayaan ini diperingati sebagai Hari Raya Trisuci Waisak yang menandai tiga peristiwa besar dalam kehidupan Siddhartha Gautama (kemudian dikenal sebagai Buddha Shakyamuni): kelahiran, pencerahan, dan wafatnya (Parinibbāna).

Secara internasional, Vesak juga dikenal sebagai Buddha Jayanti, Buddha Purnima, atau Saga Dawa Düchen tergantung tradisi dan negara.


2. Sejarah Perayaan Waisak

2.1 Asal Usul Perayaan

Tanggal awal mula perayaan Waisak tidak tercatat secara eksplisit dalam teks Buddhis awal seperti Tipitaka (termasuk Sutta Pitaka), karena Tipitaka/Sutta Piṭaka adalah koleksi ajaran dan khotbah Buddha, bukan kronik perayaan ritual yang kemudian berkembang. Dalam canon Pali sendiri tidak ada penyebutan langsung tentang “Waisak” sebagai hari raya tertentu. Tradisi menentukan tanggal perayaan ini berkembang belakangan berdasarkan kalender bulan.

Namun dalam tradisi Buddhis Theravada dianggap bahwa ketiga kejadian—kelahiran, pencerahan, dan Parinibbāna—terjadi pada hari purnama di bulan Vesakha, meskipun bukti tekstual historisnya tidak pasti dan lebih merupakan bagian dari kepercayaan ritual/kalender umat Buddha.

2.2 Formalisasi sebagai Hari Raya ( abad ke-20 dan sebelumnya )

Perayaan seperti dikenali saat ini terutama berkembang dalam bentuk komunitas Buddhis di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pada tahun 1950, World Fellowship of Buddhists menetapkan secara formal hari Vesak ini sebagai perayaan yang mengenang tiga peristiwa tersebut secara serentak di seluruh dunia.

Kemudian pada tahun 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui Vesak sebagai hari internasional yang memperingati kontribusi ajaran Buddha terhadap kemanusiaan, termasuk pesan perdamaian dan toleransi yang relevan lintas budaya.


3. Makna Tri Suci Waisak

Waisak adalah peringatan Tri Suci, yaitu tiga kejadian penting:

3.1 Kelahiran Siddhartha Gautama

Siddhartha Gautama lahir di Lumbini (kini di perbatasan Nepal dan India) sebagai putra Raja Suddhodana. Ia lahir ke dunia sebagai seorang bodhisatta — calon Buddha yang kemudian akan mencapai kebijaksanaan tertinggi.

3.2 Pencerahan (Bodhi)

Pada usia sekitar 35 tahun di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, India, Siddhartha mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha — “yang tercerahkan”. Ini merupakan inti spiritual dari ajaran Buddhis: pembebasan dari penderitaan melalui pemahaman dan praktik Dharma.

3.3 Parinibbāna (Wafat)

Buddha wafat pada usia 80 tahun di Kusinara, suatu peristiwa yang dikenal sebagai Parinibbāna — pembebasan total dari siklus kelahiran kembali (saṃsāra). Ini bukan “kematian” secara teologis, tetapi simbol akhir pembebasan.

Ketiga peristiwa ini dilihat sebagai satu rangkaian peristiwa yang sangat bermakna, sehingga semua diperingati pada satu hari purnama khas Vesakha.


4. Hubungan dengan Sutta Pitaka dan Tipitaka

4.1 Tipitaka dan Sutta Piṭaka

Tipitaka, atau Pali Canon, adalah koleksi teks suci Buddhis Theravāda. Tiga bagian utamanya adalah:

  1. Vinaya Piṭaka — aturan dan tata tertib Sangha

  2. Sutta Piṭaka — khotbah-khotbah Buddha dan ajaran moral

  3. Abhidhamma Piṭaka — penjelasan filosofis/detail ajaran

Dalam Sutta Piṭaka, kita menemukan banyak ajaran Buddha tentang Dhamma (ajaran ajaran moral dan meditasi), tetapi tidak ada referensi eksplisit tentang nama “Vaisak” (Waisak) sebagai festival dalam teks itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa nama raya ini muncul sebagai tradisi budaya-keagamaan setelah periode awal Buddhisme.

4.2 Teks Buddhavaṃsa dan Narasi Kehidupan Buddha

Buddhavaṃsa — bagian dari Khuddaka Nikāya dalam Sutta Pitaka — berisi riwayat hidup Buddha dan para Buddha sebelumnya. Meskipun teks ini tidak menetapkan Waisak sebagai hari raya, ia memberikan narasi penting tentang perjalanan kehidupan Buddha yang kemudian menjadi dasar perayaan Trisuci.


5. Ritual, Praktik, dan Simbolisme dalam Waisak

5.1 Ritual Umum

Perayaan Waisak sering mencakup beberapa ritual seperti:

  • Puja Bhakti: penghormatan dan doa kepada Buddha.

  • Pindapata: persembahan makanan kepada Sangha.

  • Meditasi dan penguatan sila: merenungkan ajaran moral Buddha.

  • Pelepasan hewan/ lampion: simbol kebebasan dan penerangan batin.

5.2 Makna Spiritualitas

Waisak bukan sekadar peringatan historis: ini adalah momentum refleksi spiritual dan dorongan bagi umat Buddha untuk lebih giat meneladani nilai kasih sayang, kebajikan, dan pencerahan — inti ajaran Buddha.


6. Signifikansi Kultural dan Global

Perayaan Waisak juga memiliki makna sosial dan budaya:

  • Meneguhkan identitas umat Buddha di berbagai negara seperti Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Indonesia, dan India.

  • Diperingati secara internasional melalui PBB sebagai momentum toleransi dan perdamaian.

  • Menjadi momen dialog antaragama karena nilai-nilai universal yang diusung seperti kasih sayang, damai, dan kebajikan.


7. Kesimpulan

Secara akademis, Waisak dapat dilihat dari dua dimensi:

  1. Tradisi Buddhis ritual-kultural, yang berkembang di komunitas Buddhis sepanjang Asia dan diformalkan pada abad ke-20.

  2. Ajaran spiritual Buddhis, yang akar filosofisnya berasal dari perjalanan hidup Buddha — seperti diceritakan dalam Buddhavaṃsa dan sumber-sumber Buddhis awal — meski nama perayaan itu sendiri tidak disebut secara eksplisit dalam Sutta Pitaka.

Waisak bukan sekadar perayaan kelahiran atau wafatnya Buddha, tetapi momentum spiritual untuk merenungkan inti ajaran Buddha: pembebasan dari penderitaan dan penanaman kebajikan yang membawa manfaat bagi individu dan masyarakat.

Sejarah Singkat Lagu “Anatta” Arti Lirik lagu "Anatta" Mari kita belajar Dhamma :)

 

Sejarah Singkat Lagu “Anatta”

Lagu “Anatta” ciptaan B. Giri Rakkhito M. T merupakan salah satu lagu Buddhis yang bertema Dhamma mendalam, khususnya tentang ajaran Anatta (tanpa inti diri). Lagu ini banyak digunakan dalam kegiatan pembinaan umat Buddha, seperti puja bakti, pembelajaran Dhamma, maupun refleksi batin.

Karya ini muncul sebagai bagian dari upaya memperkenalkan ajaran inti Buddha melalui media seni dan musik, sehingga Dhamma tidak hanya dipelajari secara konseptual, tetapi juga dirasakan dan direnungkan melalui lirik dan melodi.

Dalam tradisi Buddhis, seni—termasuk lagu—dipandang sebagai sarana upaya (upāya) untuk membantu makhluk memahami kebenaran sesuai dengan kapasitasnya.


Kaitan Lirik Lagu “Anatta” dengan Ajaran Dhamma

Lirik lagu Anatta secara jelas menggambarkan salah satu dari Tiga Corak Umum Kehidupan (Tilakkhaṇa), yaitu:

  • Anicca (tidak kekal)

  • Dukkha (penderitaan)

  • Anatta (tanpa inti diri)

Fokus utama lagu ini adalah Anatta, sesuai dengan ajaran Sang Buddha bahwa tidak ada “aku”, “jiwa”, atau “diri” yang kekal dalam lima kelompok kehidupan (pañcakkhandha).


1. Anatta sebagai Kesunyataan Akhir

“Anatta itulah sesuatu tanpa aku serta tanpa inti
Dalam Kesunyataan akhir, tiada makhluk jiwapun pribadi”

Bagian ini selaras dengan ajaran Paramattha Dhamma, bahwa pada tingkat kebenaran tertinggi hanya ada:

  • Nama (batin)

  • Rūpa (materi)

Tanpa adanya entitas tetap yang bisa disebut “aku” atau “jiwa”.


2. Penolakan Konsep Diri yang Kekal

“Tiada sesuatu kesatuan benda yang disebut diri
Nan tinggal kekal sepanjang masa namun berubah selalu”

Lirik ini mencerminkan penjelasan Sang Buddha bahwa:

  • Segala sesuatu selalu berubah (anicca)

  • Sesuatu yang berubah tidak mungkin menjadi diri sejati

Ini sejalan dengan ajaran dalam Anatta-lakkhaṇa Sutta, khotbah kedua Sang Buddha.


3. Manusia sebagai Proses, Bukan Pribadi Tetap

“Hanya batin dan materi
Bukan makhluk bukan jiwa
Bukan suatu pribadi”

Bagian reff menegaskan bahwa yang disebut “manusia” hanyalah:

  • Proses batin dan jasmani

  • Rangkaian sebab dan kondisi

  • Bukan entitas kekal


4. Hubungan Anatta dengan Berakhirnya Samsara

“Bagi yang melihat kebenaran sejati serta sadar diri
Baginya lenyaplah avijja roda Samsara dapat di atasi”

Ini menunjukkan hubungan langsung antara:

  • Pemahaman Anatta

  • Lenyapnya avijja (kebodohan batin)

  • Terhentinya penderitaan dan kelahiran kembali (Samsara)

Pemahaman Anatta bukan sekadar teori, tetapi kunci pembebasan batin.


Kesimpulan Makna Dhamma dalam Lagu “Anatta”

Lagu Anatta bukan hanya lagu rohani, tetapi:

  • Media perenungan Dhamma

  • Sarana pendidikan Buddhis

  • Pengingat bahwa kemelekatan pada “aku” adalah sumber penderitaan

Melalui lirik yang sederhana namun mendalam, lagu ini membantu umat Buddha mendekatkan ajaran luhur Sang Buddha ke dalam kehidupan sehari-hari.


“Memahami Anatta bukan berarti kehilangan diri,
melainkan terbebas dari penderitaan karena melekat pada diri.”

Apakah Semua AI di Masa Depan Akan Berbayar? Ini Penjelasan Lengkapnya

 Apakah Semua AI di Masa Depan Akan Berbayar? 

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin cepat. Banyak orang mulai bertanya:
“Apakah di masa depan semua AI akan berbayar?”
Apakah kita akan dipaksa membayar hanya untuk belajar, bekerja, atau berkarya?

Jawabannya: tidak sesederhana itu.


1. Apakah Semua AI Akan Berbayar?

Tidak semua AI akan berbayar.
Namun, di masa depan kemungkinan besar akan ada dua jenis layanan AI:

  1. AI Gratis

    • Fitur terbatas

    • Ada batas penggunaan (kuota)

    • Kecepatan standar

    • Cocok untuk belajar dan kebutuhan ringan

  2. AI Berbayar

    • Lebih cepat dan stabil

    • Fitur lebih lengkap

    • Cocok untuk pekerjaan profesional dan bisnis

Ini mirip seperti:

  • YouTube (gratis & premium)

  • Aplikasi belajar

  • Game dan software desain

Versi gratis tetap ada, tapi versi terbaik biasanya berbayar.


2. AI yang Kemungkinan Tetap Gratis (atau Semi Gratis)

Beberapa jenis AI yang kemungkinan tetap bisa diakses gratis di masa depan antara lain:

AI Open Source

  • Dibuat komunitas

  • Bisa dipakai gratis

  • Biasanya butuh sedikit kemampuan teknis

  • Contoh: model AI yang dirilis untuk umum oleh komunitas global

AI Edukasi

  • Disediakan untuk pelajar dan pendidik

  • Digunakan untuk pembelajaran

  • Biasanya ada versi gratis dengan batasan

AI dengan Sistem Freemium

  • Gratis untuk penggunaan dasar

  • Bayar jika butuh fitur lanjutan

  • Cocok untuk content creator pemula

AI Lokal / Komunitas

  • Dikembangkan oleh universitas atau komunitas

  • Fokus pada bahasa dan kebutuhan lokal

  • Lebih terbuka dan terjangkau


3. Cara Memanfaatkan AI Tanpa Harus Selalu Bayar

Kabar baiknya, kita tetap bisa memanfaatkan AI secara maksimal tanpa biaya besar, dengan cara:

Gunakan AI untuk Ide, Bukan Sekadar Hasil

AI sangat kuat untuk:

  • Brainstorm ide

  • Membuat kerangka tulisan

  • Menyusun konsep konten

  • Merangkum materi

Hasil akhirnya tetap bisa kamu kembangkan sendiri.


Kombinasikan Beberapa AI Gratis

Setiap AI punya kelebihan masing-masing:

  • Satu untuk menulis

  • Satu untuk gambar

  • Satu untuk riset

Dengan strategi yang tepat, fitur gratis sudah sangat cukup.


Tingkatkan Skill Manusia

AI akan selalu kalah dalam:

  • Empati

  • Nilai moral

  • Kreativitas bermakna

  • Pengalaman hidup

Orang yang punya skill berpikir, menulis, mengajar, dan berkarya tetap unggul meski AI berkembang.


4. Sudut Pandang Buddhis tentang Teknologi dan Masa Depan

Dalam ajaran Buddha, teknologi bukanlah musuh.
Yang terpenting adalah niat dan cara penggunaannya.

Prinsip Utama:

Segala sesuatu muncul karena sebab dan kondisi.

AI pun demikian.
Ia bisa menjadi alat kebaikan atau sumber penderitaan, tergantung bagaimana kita menggunakannya.


Nilai Buddhis yang Relevan dengan AI:

  • Paññā (Kebijaksanaan)
    Gunakan AI dengan kesadaran, bukan ketergantungan.

  • Hiri & Ottappa
    Malu dan takut berbuat salah, termasuk menyalahgunakan teknologi.

  • Jalan Tengah
    Tidak menolak teknologi, tapi juga tidak diperbudak olehnya.


Kesimpulan Buddhis

AI seharusnya:

  • Membantu manusia berkembang

  • Meringankan penderitaan

  • Mendukung pembelajaran dan kebajikan

Bukan menggantikan nilai kemanusiaan.


5. Penutup: Haruskah Kita Takut Masa Depan AI?

Tidak perlu takut.
Yang penting adalah:

  • Terus belajar

  • Beradaptasi

  • Menggunakan teknologi dengan bijak

AI hanyalah alat.
Manusia yang sadar, bijak, dan beretika tetap memegang kendali masa depan.


“Teknologi berkembang cepat, tetapi kebijaksanaan harus berjalan lebih dulu.”

Asadha: Cahaya Dharma Pertama dari Buddha

 

📚 Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa diharapkan dapat:

  • Menjelaskan makna Hari Suci Asadha.

  • Menyebutkan peristiwa penting yang terjadi pada Hari Asadha.

  • Meneladani nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Asadha.


🪷 Apa Itu Hari Asadha?

Hari Asadha atau Asalha Puja adalah salah satu hari suci dalam agama Buddha yang diperingati setiap bulan Asadha (sekitar Juli) pada saat bulan purnama. Hari ini memperingati pembabaran Dharma pertama oleh Sang Buddha setelah beliau mencapai Pencerahan.

📌 Nama lain:

  • Asalha Puja (dalam bahasa Pali)

  • Hari Dharma


Peristiwa Penting Hari Asadha

Pada hari Asadha, terjadi momen bersejarah dalam perjalanan Agama Buddha:

  1. Buddha membabarkan Dharma pertama di Taman Isipatana, Benares (India) kepada lima petapa (Pañcavaggiya).

  2. Dharma yang dibabarkan adalah Khutbah Dhammacakkappavattana Sutta — “Pemutaran Roda Kebenaran”.

  3. Yasa menjadi bhikkhu pertama di luar kelompok lima petapa.

  4. Terbentuknya Sangha sebagai Tiga Permata (Triratna) menjadi lengkap:

    • Buddha

    • Dhamma

    • Sangha


📖 Isi Singkat Dhammacakkappavattana Sutta

Dalam khotbah ini, Buddha mengajarkan:

  • Empat Kebenaran Mulia (Cattāri Ariya Saccāni):

    1. Dukkha – Hidup mengandung penderitaan.

    2. Samudaya – Penderitaan muncul karena nafsu keinginan.

    3. Nirodha – Penderitaan dapat diakhiri.

    4. Magga – Jalan menuju lenyapnya penderitaan (Jalan Mulia Berunsur Delapan).


💡 Nilai-Nilai yang Dapat Diteladani

  • Kebenaran: Keberanian menyampaikan kebenaran universal demi kebaikan semua makhluk.

  • Pengorbanan dan Kepedulian: Buddha membagikan kebijaksanaan demi membebaskan makhluk dari penderitaan.

  • Pencerahan dan Kesadaran: Pentingnya pemahaman terhadap hakikat hidup untuk mencapai pembebasan.


🙏 Cara Memperingati Hari Asadha

Umat Buddha biasanya melakukan:

  • Puja Bakti di Vihara

  • Pembacaan Sutta (khususnya Dhammacakkappavattana Sutta)

  • Meditasi dan perenungan Dharma

  • Dana kepada Sangha


🗣️ Refleksi

“Sudahkah aku memutar roda kebenaran dalam hidupku sendiri?”
“Apakah aku sudah berusaha memahami dan melaksanakan Empat Kebenaran Mulia?”


✍️ Tugas Siswa

  1. Ceritakan kembali dengan singkat peristiwa Hari Asadha!

  2. Sebutkan tiga nilai moral yang dapat kamu teladani dari peristiwa Asadha!

  3. Buat gambar ilustrasi tentang Buddha membabarkan Dharma!

MAKNA HARI RAYA WAISAK 2025: RENUNGAN, TRADISI, DAN PESAN DAMAI UNTUK SEMUA

Makna Hari Raya Waisak 2025: Renungan, Tradisi, dan Pesan Damai untuk Semua

Hari Raya Waisak adalah salah satu hari suci terbesar bagi umat Buddha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di tahun 2025, Waisak akan diperingati pada hari Minggu, 11 Mei 2025, berdasarkan penanggalan lunar Buddhis. Hari ini bukan sekadar perayaan, melainkan momen penting untuk merenung, memperdalam spiritualitas, dan menyebarkan pesan kedamaian.

Apa Itu Hari Raya Waisak?

Hari Raya Waisak memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yaitu:

  1. Kelahiran Pangeran Siddharta

  2. Pencapaian Pencerahan (Bodhi)

  3. Parinibbana (wafatnya Sang Buddha)

Ketiganya terjadi pada hari yang sama dalam kalender Buddhis, menjadikan Waisak sebagai hari suci penuh makna.

Tanggal Waisak 2025 dan Perayaannya

Menurut kalender nasional Indonesia, Waisak 2025 jatuh pada 11 Mei 2025, bertepatan dengan detik-detik Waisak pada pukul 10:52:42 WIB. Umat Buddha biasanya berkumpul di vihara untuk melakukan puja bakti, meditasi, dan pelepasan satwa sebagai simbol cinta kasih universal.

Tradisi Waisak di Indonesia

Perayaan Waisak di Indonesia berlangsung dengan berbagai kegiatan spiritual dan sosial, seperti:

  • Puja bhakti dan meditasi

  • Prosesi dari Candi Mendut ke Candi Borobudur

  • Pelepasan lampion Waisak sebagai simbol harapan dan doa

  • Aksi sosial seperti donor darah, pembagian sembako, dan pengobatan gratis

Tradisi ini mencerminkan nilai Buddhisme yang menekankan cinta kasih (metta), welas asih (karuna), dan kedamaian.


Pesan Damai dan Refleksi Spiritualitas Waisak

Waisak bukan hanya untuk umat Buddha. Nilai-nilainya universal dan menyentuh semua kalangan. Di tengah dunia yang penuh konflik dan kesibukan, Waisak mengajak kita semua untuk berhenti sejenak, merenung, dan menyebarkan kedamaian dari dalam hati ke luar diri.

Kata-Kata Bijak dan Ucapan Waisak 2025

Berikut beberapa kata mutiara dan ucapan yang bisa Anda bagikan di media sosial:

  • "Sebarkan cinta ke mana pun kamu pergi. Jangan biarkan seseorang datang padamu tanpa merasa lebih bahagia." – Sang Buddha

  • "Selamat Hari Raya Waisak 2569 BE. Semoga semua makhluk hidup berbahagia."

  • "Mari menebarkan cahaya kebijaksanaan dan kedamaian dalam kehidupan kita sehari-hari."

Penutup

Hari Raya Waisak 2025 adalah momen penting untuk memperkuat nilai kemanusiaan, refleksi spiritual, dan harmoni antar sesama. Baik Anda umat Buddha atau bukan, pesan Waisak tetap relevan: kedamaian dimulai dari dalam diri sendiri.



Waisak 2025 jatuh pada 11 Mei. Simak makna, tradisi, dan pesan spiritual Hari Raya Waisak lengkap dengan kutipan bijak dan inspiratif.

PANCASILA DAN PANCADHAMMA (BUDDHIST MORALITY)

 


Pancasila Buddhis dan Pancadhamma adalah dua konsep yang terkait dengan ajaran Buddha.

Berikut adalah penjelasan tentang keduanya:

 

Pancasila Buddhis

Pancasila Buddhis adalah lima prinsip moral dasar yang diajarkan oleh Buddha untuk membantu umat Buddha menjalani hidup yang baik dan menuju pencerahan. Kelima prinsip tersebut adalah:

1.    Tidak membunuh:

Tidak melakukan kekerasan atau membunuh makhluk hidup.

      2.    Tidak mencuri:

Tidak mengambil barang orang lain tanpa izin.

      3.    Tidak berzina:

Tidak melakukan perbuatan cabul atau tidak pantas.

      4.    Tidak berbohong:

Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak benar atau menipu.


5.    Tidak minum minuman keras:

Tidak mengonsumsi minuman keras atau zat-zat yang dapat memabukkan.

 





ISI PANCADHAMMA/PANCADHARMA :

     1.    Metta-Karuna

Yaitu perasaan cinta kasih dan welas asih yang terwujud melalui suatu keinginan untuk membantu makhluk lain mencapai kebahagiaan seperti yang dialami oleh dirinya sendiri.

     2.    Samma ajiva

Yaitu kesabaran dalam cara berpenghidupan benar. Perlu ditekankan disini bahwa kesabaran ini merupakan suatu bantuan besar bagi pelaksanaan sila kedua. Dapatlah dikatakan  bahwa hampir tidak mungkin seseorang dapat melatih sila kedua tanpa melatih dan mengembangkan samma ajiva.

3.    Santutthi

Yaitu perasaan puas terhadap apa yang telah menjadi miliknya. Dalam pelaksanaannya dengan sila ketiga, perasaan puas ini dapat dibedakan menjadi dua :

Sadarasantutthi, yaitu perasaan puas memiliki satu istri. Dengan kata lain tidak meninggalkan istrinya pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu muda maupun tua, dan tidak berusaha untuk pergi atau mencari wanita lain.

Pativatti, yaitu rasa setia kepada suami. Rasa setia tidak terbatas pada waktu. Sekalipun suaminya telah meninggal dunia, ia lebih memilih menjanda seumur hidupnya meskipun sebenarnya oleh tradisi dan hukum negara diperkenankan untuk menikah lagi.

4.    Sacca

Yaitu kejujuran yang diwujudkan sebagai keadilan, kemurnian, kesetiaan, dan perasaan terima kasih.

5.    Satisampajanna

Yaitu kesadaran dan pengertian benar. Dalam hubungannya dengan pelaksanaan sila, satisampajanna ini sering diartikan sebagai kewaspadaan. Kewaspadaan tersebut dibagi menjadi :

Kewaspadaan dalam hal makanan.

Kewaspadaan dalam hal pekerjaan.

Kewaspadaan dalam hal bertingkah laku.

Kewaspadaan terhadap hakikat hidup dan kehidupan.

PUJA BAKTI DALAM AGAMA BUDDHA

Selamat datang di blog saya, 
Bila bermanfaat Sharelah pada Teman Anda.
Silahkan berkomentar di bawah postingan 
berupa saran yang membangun kreatifitas saya. 
Like, Share, dan Comment 
Terima Kasih atas kunjungan Anda ;) 
----------------------------------------------------------------------------------

Bagi umat Buddha, Vihara adalah tempat Buddha tinggal tidak hanya di masa lalu, tetapi juga untuk saat ini. Walaupun Sang Buddha telah tiada, namun pengaruh-Nya masih bertahan hingga sekarang, seperti wangi-wangian yang harumnya masih terus tertinggal. Umat Buddha merasa mereka membawa persembahannya untuk seseorang yang dianggap masih benar-benar hidup.

Mempersembahkan bunga dan dupa adalah bentuk persembahan, penghormatan, pemujaan, dan ucapan rasa syukur. Persembahan bunga dan dupa diikuti ungkapan berupa bait-bait (syair-syair) yang mengingatkan seseorang tentang sifat-sifat mulia Sang Buddha.

Umat Buddha yang baik harus memulai dari menghormat dan sembahyang, memuji kemuliaan Buddha, bertekad memperoleh kegembiraan hidup dengan melaksanakan Ajaran Buddha, dan membagi keberuntungan kepada semua makhluk.

TEMPAT PUJA BAKTI AGAMA BUDDHA

Biasanya umat Buddha melaksanakan puja bakti bersama setiap hari Minggu, sedangkan puja bakti perorangan/pribadi dilakukan pada pagi dan sore hari. Puja bakti dapat dilakukan di rumah, Arama, Vihara, Cetiya, Candi atau tempat-tempat tertentu yang pantas digunakan untuk melakukan puja bakti.

SYARAT DAN FASILITAS LENGKAP VIHARA TERDIRI ATAS:

·         Gedung tempat kegiatan Sangha (Uposathagara)
·         Tempat Puja Bakti (Bakti Sala)

·         Tempat Mendengarkan Dharma (Dhammasala/Dharmasala)

·         Tempat tinggal Bhikkhu, Bhikkhuni, Samanera, Samaneri (Kuti)

·         Ruang perpustakaan

·         Ruang meditasi

·         Ruang serbaguna

TEMPAT UNTUK MELAKUKAN PUJA BAKTI PADA UMUMNYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT:

1.      Arama, tempat kebaktian yang lebih luas dari Vihara. Arama memiliki taman luas yang biasanya digunakan untuk latihan meditasi. Fasilitas lainnya hampir sama dengan fasilitas yang terdapat di Vihara.
2.      
       Cetiya, tempat puja bakti umat Buddha yang lebih kecil dan sarananya lebih sederhana dibandingkan dengan Vihara.

3.   Candi, bangunan suci agama Buddha yang merupakan perbesaran dari Stupa. Candi biasanya digunakan untuk kebaktian agama Buddha ketika memperingati hari raya

Mengenai ruang tempat puja bakti agama Buddha  terdapat meja sembahyang yang disebut dengan ALTAR yang berfungsi untuk meletakkan alat sembahyang dan persembahan. Alat sembahyang tersebut seperti lonceng, genta, dan sebagainya.

Bendapersembahan di altar bukanlah dipersembahkan kepada Buddha karena Buddha bukanlah dewa yang dapat menikmati persembahan tersebut, dan patung Buddha bukanlah berhala/patung yang dipuja dengan benda persembahan.

BENDA PERSEMBAHAN PADA ALTAR DAN MAKNANYA:

·         Buddha Rupang yang berfungsi sebagai lambang penghormatan terhadap Buddha dan sebagai objek meditasi.
·         Lilin melambangkan penerangan bagi batin yang dipenuhi oleh kekotoran batin.
·         Hio/dupa melambangkan keharuman kebajikan.
·         Air melambangkan kerendahan hati, kesucian dan penyesuaian diri terhadap lingkungan.
·         Bunga melambangkan ketidakkekalan hidup.
·         Buah melambangkan hasil perbuatan dan sebagai ucapan terima kasih terhadap Buddha.

Sumber: Buku Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 4 Edisi Revisi

MENCARI TIGA PERMATA (Dhamma Game)

Permainan ini adalah permaian yang sederhana, hanya pembimbing/guru sudah mempersiapkan kartu bergambar di arena vihara. Cara permaiannya sebagai berikut: 

Buatlah 3 kelompok, yaitu:
  • Kelompok Buddha, 
  • Kelompok Dharma dan 
  • Kelompok Sanggha.

Carilah kartu bergambar sesuai dengan nama kelompok dalam waktu 5 menit di wilayah wihara.

Kelompok Buddha ------> kartu bergambar Buddha 

Kelompok Dharma ------> kartu bergambar Kitab Suci Tripitaka 

Kelompok Sanggha------> kartu bergambar biksu/biksuni

Kelompok dilarang mengambil atau menyembunyikan kartu gambar kelompok lain. Kejujuran adalah nilai mata uang yang berlaku dimana-mana. Dalam 5 menit, kelompok yang terbanyak mendapatkan kartu bergambar adalah pemenangnya.

begitulah permainannya. Bagi kelompok yang menang mendapat hadiah dan hadiah sudah di persiapkan juga. Terima kasih atas kunjungan Anda, semoga bermanfaat.


Sumber: Come and See Ehipassiko Foundations

SILSILAH PARA BUDDHA (BUDDHAVAMSA)

Pengertian BUDDHAVAMSA
BUDDHA = yang tercerahkan (Sang Buddha)
VAMSA = keturunan, keluarga atau silsilah

BUDDHAVAMSA adalah keterangan dan penjelasan dari silsilah dua puluh empat Buddha yang muncul sebelum Buddha Gotama. Buddhavamsa merupakan buku ke 14 dari Khuddaka Nikāya yang memberikan penjelasan historis singkat tentang Buddha Gotama dan 24 Buddha sebelumnya. Buddhavamsa terdiri dari 29 bagian dalam bentuk syair.

Bagian ke-1
menjelaskan tentang YM Sariputta bertanya kepada Sang Buddha kapankah beliau pertama kali mencanangkan tekad untuk berjuang  menjadi Buddha, dan kesempurnaan (Parami) apa saja yang telah beliau penuhi untuk mencapai pencerahan atau menjadi Buddha.

Bagian ke-2
Sang Buddha menjelaskan bagaimana sebagai petapa Sumedha beliau mendapat inspirasi dari Buddha Dipankara sehingga beliaupun mencanangkan tekad untuk mencapai Buddha, serta bagaimana Buddha Dipankara kemudian memberikan berkahnya kepada petapa Sumedha dengan meramalkan bahwa Sumedha akan menjadi Buddha dengan nama Gotama setelah periode waktu empat Asankheyya dan seratus ribu Kappa (siklus Bumi).

Bagian ke-3 – ke-27
Menjelaskan tentang 25 Buddha termasuk Buddha Gotama, secara rinci tentang kelahiran, status keluarga, nama orang tua, nama istri dan anak-anakNya, masa kehidupanNya, cara meninggalkan keduniawian, lamanya mereka berupaya untuk mencapai ke-Buddhaan, ajaran mereka tentang Dhammacakka Sutta, nama-nama siswa utama dan siswa awam utama mereka. Setiap bagian ditutup dengan penjelasan dimana para Buddha itu meninggal dan bagaimana relik mereka dibagikan.

Bagian ke-28
Disebutkan nama dari tiga Buddha, yaitu Tanhankara, Medhankara, dan Saranankara yang hidup sebelum Buddha Dipankara. Dibagian ini pula, Sang Buddha menyatakan bahwa Buddha Metteya akan muncul di dunia ini setelah Beliau.

Bagian ke-29
Menjelaskan tentang bagaimana relik-relik Sang Buddha dibagikan dan di mana disimpan.
Sepuluh macam Kesempurnaan (Dasa Pāramī):
1.      Dāna                : Kemurahan hati untuk member
2.      Sila                  : kemoralan
3.      Nekkhama       : peninggalan kesenangan indra
4.      Paňňā              : kebijaksanaan
5.      Viriya              : usaha/semangat
6.      Khanti             : Kesabaran
7.      Sacca               : kebenaran
8.      Adhitthana      : keputusan yang teguh/tekad yang kuat
9.      Metta               : cinta kasih
10.  Upekkha          : keseimbangan batin.

EMPAT MACAM KAPPA
(Siklus Bumi/periode waktu yang sangat lama):
1.      Âyu-kappa      : usia rata-rata manusia.
2.      Antara-kappa  : bertambah dan menurunnya usia manusia berkisar antara sepuluh hingga
                            mencapai ribuan tahun.
3.      Asańkheyya-kappa: kurun waktu yang tak terhitung lamanya (yang lamanya 64 Antara-kappa).
4.      Mahā-kappa    : kurun waktu yang sangat lama (yang lamanya 4 Asańkheyya- kappa).

Sang Buddha berkata bahwa Mahā-kappa adalah lebih lama jika dibandingkan dengan lama waktu yang digunakan oleh seseorang untuk mengikis batu karang yang panjang serta lebarnya satu yojana (sekitar 7 mil) dengan mengusapkan kain sutra pada batu karang tersebut setiap seratus tahun sekali. Dan juga melebihi lama waktu yang diperlukan untuk membersihkan suatu tempat yang berukuran satu yojana, yang panjang, lebar, serta tingginya dipenuhi dengan biji lada dengan membuang satu biji lada setiap seratus tahun sekali.

TIGA MACAM BUDDHA:

1.      Viriyā-dhika Buddha
Buddha yang khususnya memiliki usaha kuat untuk mencapai penerangan. Ia harus memenuhi sepuluh kesempurnaan (Pārami) selama 16 Asankheyya dan seratus ribu kappa.
2.      Saddhā-dhika Buddha
Buddha yang khusunya memiliki keyakinan yang teguh dalam mencapai penerangan sempurna. Ia harus memenuhi sepuluah macam kesempurnaan (Pārami) selama 8 Asankheyya dan seratus ribu kappa.
3.      Paňňā-dhika Buddha
Buddha yang khusunya memiliki kebijaksanaan. Ia harus memenuhi sepuluh kesempurnaan (Pārami) selama 4 Asankheyya dan seratus ribu kappa (siklus bumi).

Empat Kondisi Untuk Mencapai Ke Buddhaan:

·         Ussāha       : (tenaga eksepsional) yaitu usaha dalam memenuhi kesempurnaan, pengorbanan, dan latihan (Pāramī, cāga dan cariya)
·         Ummanga : pemahaman dan kebijaksanaan yang tinggi serta memiliki intelektual yang memadai
·         Avatthāna : memiliki tekad yang kuat dan memiliki tujuan yang tepat.
·         Hitācariya  : memiliki belas kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk.

Enam Macam Periode/Masa kemunculan Buddha:

Sāra-kappa            : Periode/suatu masa dimana hanya satu Buddha yang muncul.
Maņda-kappa        : Periode/suatu masa dimana terdapat dua Buddha yang muncul.
Vara-kappa            : Periode/suatu masa dimana terdapat tiga Buddha yang muncul.
Sāramaņda-kappa : Periode/suatu masa dimana terdapat empat Buddha yang muncul.
Bhadda-kappa       : Periode/suatu masa dimana terdapat lima Buddha yang muncul.
Suňňa-kappa         : Periode/suatu masa dimana tidak terdapat satu Buddhapun muncul.

*Suňňa-kappa “Periode/masa hampa” karena tidak ada satu Buddhapun yang muncul pada periode/masa tersebut.

Dua puluh Delapan Buddha di Masa Lampau (dengan Usia rata-rata mereka masing- masing):
I.            Sāramaņda-kappa (Empat Buddha):
1.      Buddha- Taņhankara (100.000 tahun)
2.      Buddha-Medhankara (90.000 tahun)
3.      Buddha-Saranankara (80.000 tahun)
4.      Buddha-Dipankara (100.000 tahun)
*Buddha Gotama memperoleh ramalan yang pertama kalinya untuk menjadi seorang Buddha; seorang yang tercerahkan dari   Buddha-Dipańkara.
*Kemudian, ASANKHEYYA-KAPPA disebut juga Sela-Asańkheyya-kappa  adalah selang waktu yang pertama antara Sāramaņda-kappa dengan Sāra-kappa.

II.       Sāra-kappa (Satu Buddha):
5.      Buddha-Kondaňňa (100.000 tahun)
*Kemudian, ASANKHEYYA-KAPPA yaitu selang waktu yang kedua di sebut Bhāsa- Asańkheyya.
III. Sāramaņda-kappa (Empat Buddha):
      6. Buddha-Mańgala (90.000 tahun)
      7. Buddha-Sumana (90.000 tahun)
      8. Buddha-Revata (60.000 tahun)
      9. Buddha-Sobhita (90.000 tahun
*Selanjutnya, ASANKHEYYA-KAPPA yaitu selang waktu yang ketiga di sebut Jaya-Asańkheyya.
IV. Vara-Kappa (Tiga Buddha)
      10. Buddha-Anomadassī (100.000 tahun)
      11. Buddha-Paduma (100.000 tahun)
      12. Buddha-Nārada (90.000 tahun)
*Kemudian, ASANKHEYYA-KAPPA yaitu selang waktu yang keempat di sebut Rucira-Asańkheyya. Inilah Buddha-buddha yang muncul pada empat Asańkheyya yang lampau.
V. Sāra-Kappa (Satu Buddha) – 100. 000 Bumi sebelum bumi sekarang ini
       13. Buddha-Padumuttara (100.000 tahun)
*kemudian, sekitar 70.000 Bumi tidak terdapat Buddha.
VI. Maņda-Kappa (Dua Buddha) – 30.000 Bumi sebelum bumi sekarang ini:
      14.  Buddha-Sumedhā (90.000 tahun)
      15.  Buddha-Sujāta (90.000 tahun)
*Kemudian, sekitar 28.200 Bumi tidak terdapat seorang Buddha.
VII. Vara-Kappa (Tiga Buddha) – 1800 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:
       16. Buddha-Piyadassī (90.000 tahunn)
       17. Buddha-Atthadassī (100.000 tahun)
       18. Buddha-Dhammadassī (100.000 tahun)
*Kemudian, 1705 bumi menjadi kosong atau tidak terdapat seorang Buddha.
VIII. Sāra-Kappa (Satu Buddha) – 94 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:
       19. Buddha-Siddhata (100.000 tahun)
*Kemudian satu Bumi  tidak ada satu Buddhapun yang muncul
IX. Manda-Kappa (Dua Buddha) – 92 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:
       20. Buddha-Tissa (100.000 tahun)
       21. Buddha-Phussa (90.000 tahun)
X. Sāra-Kappa (Satu Buddha) – 91 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:
       22. Buddha-Vipassī (80.000 tahun)
*Kemudian 59 Bumi  tidak ada satu Buddhapun yang muncul
XI. Manda-Kappa (Dua Buddha) – 31 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:
      23. Buddha-Sikhī (70.000 tahun)
      24. Buddha-Vesabhū (60.000 tahun)
*Kemudian 29 Bumi  tidak ada satu Buddhapun yang muncul
XII. Bhadda-Kappa (Lima Buddha) – Bumi sekarang ini:
       25. Buddha-Kakusandha (40.000 tahun)
       26. Buddha-Konāgamana (30.000 tahun)
       27. Buddha-Kassapa (20.000 tahun)
       28. Buddha-Gotama (100 tahun) Buddha yang saat ini,

Catatan:
Buddha tidak pernah muncul apabila usia rata-rata manusia di bawah 10 tahun atau lebih dari 100.000 tahun di alam manusia. Karena dengan usia yang sangat singkat dan juga cukup lama tersebut, manusia tidak akan mampu merealisir tiga corak atau karakteristik utama dari kehidupan yaitu ketidak kekalan (anicca), penderitaan (dukkha) dan ketidak-akuan (anatta).

Buddha tidak pernah hidup sampai akhir usianya tetapi hidup 80% dari usianya. Sebagai contoh: apabila usia rata-rata adalah 100.000 tahun maka Buddha akan hidup sampai berusia 80.000 tahun. Dan apabila usia rata-rata 100 tahun maka Buddha akan hidup sampai usia 80 tahun.
Bodhisatta tidak akan pernah menjadi Buddha apabila belum memenuhi 10 kesempurnaan (dasapāramī), paling tidak selama 4 Asankheyya dan seratus ribu kappa berdasarkan pada spesialisasi mereka masing-masing.

BUDDHAVAMSA (KN. 14)

1. BUDDHA DIPANKARA
Tempat Kelahiran                   : Kota Rammavati
Nama ayah & ibu                    : Raja Sudeva dan Ratu Sumedha
Dua siwa utama Thera           : Sumangala Thera dan Tissa Thera
Pendamping setia                   : Sagata Thera
Dua siswa utama Theri          : Nanda Theri dan Sunanda Theri
Pohon Bodhi                         : Pohon Pipphala
Siswa awam utama pria        : Tapussa dan bhallika
Siswa awam utama wanita   : Sirima dan Sona
Tinggi badan                         : 80 kubit/lengan

2. BUDDHA KONDANNA
Tempat Kelahiran                    : Kota Ramavati
Nama ayah & ibu                     : Raja Sunanda dan Ratu Sujata
Dua siwa utama Thera            : Bhadda Thera dan Subhadda Thera
Pendamping setia                    : Anuruddha Thera
Dua siswa utama Theri           : Tissa Theri dan Upatissa Theri
Pohon Bodhi                            : Pohon Salakalyani
Siswa awam utama pria           : Sona dan Upasona
Siswa awam  utama wanita     : Nanda dan Sirima
Tinggi badan                            : 88 kubit/lengan (44 m)

3. BUDDHA MANGALA
Tempat Kelahiran                      : Kota Uttara
Nama ayah & ibu                       : Raja Uttara dan Ratu Uttara
Dua siwa utama Thera              : Sudeva Thera dan Dhammasena Thera
Pendamping setia                      : Palita Thera
Dua siswa utama Theri             : Sivala Theri dan Asoka Theri
Pohon Bodhi                             : Pohon Nag
Siswa awam  utama pria          : Nanda dan Visakha
Siswa awam utama wanita      : Anula dan Sutana
Tinggi badan                            : 88 kubit/lengan

4. BUDDHA SUMANA
Tempat Kelahiran                        : Kota Mekhala
Nama ayah & ibu                        : Raja Sudatta dan Ratu Sirima
Dua siwa utama Thera                : Sarana Thera dan Bhavitatta Thera
Pendamping setia                        : Udena Thera
Dua siswa utama Theri                : Sona Theri dan Upasona Theri
Pohon Bodhi                                : Pohon Naga
Siswa awam utama pria               : Tapussa dan bhallika
Siswa awam utama wanita          : Varuna dan Sarana
Tinggi badan                                 : 90 kubit/lengan

5. BUDDHA REVATA
Tempat Kelahiran                         : Kota Sudhanna
Nama ayah & ibu                          : Raja Vipula dan Ratu Vipula
Dua siwa utama Thera                 : Varuna Thera dan Brahmadeva Thera
Pendamping setia                         : Sagata Thera
Dua siswa utama Theri                : Bhadda Theri dan Subhadda Theri
Pohon Bodhi                                : Pohon Naga
Siswa awam utama pria              : Paduma dan Kunjara
Siswa awam utama wanita         : Sirima dan Yasavati
Tinggi badan                               : 80 kubit/lengan

6. BUDDHA SOBHITA
Tempat Kelahiran                             : Kota Sudhamma
Nama ayah & ibu                             : Raja Sudhamma dan Ratu Sudhamma
Dua siwa utama Thera                     : Asama Thera dan Sunetta Thera
Pendamping setia                             : Anoma Thera
Dua siswa utama Theri                    : Nakula Theri dan Sujata Theri
Pohon Bodhi                                    : Pohon Naga
Siswa awam utama pria                   : Rama dan Sudatta
Siswa awam utama wanita              : Nakula dan Mitta
Tinggi badan                                   : 58 kubit/lengan (kira-kira 29 m)

7. BUDDHA ANOMADASSI
Tempat Kelahiran                              : Kota Candavati
Nama ayah & ibu                               : Raja Yasava dan Ratu Yasodhara
Dua siwa utama Thera                       : Nisabba Thera dan Anoma Thera
Pendamping setia                               : Varuna Thera
Dua siswa utama Theri                      : Sundari Theri dan Sumana Theri
Pohon Bodhi                                     : Pohon Ajjuna
Siswa awam utama pria                    : Nandivaddha dan Sirivaddha
Siswa awam utama wanita               : Uppala dan Paduma
Tinggi badan                                     : 58 kubit/lengan (kira-kira 23 m)

8. BUDDHA PADUMA
Tempat Kelahiran                               : Kota Campaka
Nama ayah & ibu                               : Raja Asama dan Ratu Asama
Dua siwa utama Thera                       : Sala Thera dan Upasala Thera
Pendamping setia                               : Varuna Thera
Dua siswa utama Theri                      : Radha Theri dan Suradha Theri
Pohon Bodhi                                      : Pohon Mahasona
Siswa awam utama pria                     : Bhiyya dan Asama
Siswa awam utama wanita                : Ruci dan Nandarama
Tinggi badan                                      : 58 kubit/lengan (kira-kira 29 m)

9. BUDDHA NARADA
Tempat Kelahiran                              : Kota Dhannavati
Nama ayah & ibu                              : Raja Dunia Sudeva dan Ratu Anoma
Dua siwa utama Thera                      : Bhaddasala Thera dan Vijitamitta Thera
Pendamping setia                             : Vasettha Thera
Dua siswa utama Theri                    : Uttara Theri dan Sunanda Phagguni
Pohon Bodhi                                    : Pohon Sona
Siswa awam utama pria                   : Uggarinda dan Vasabha
Siswa awam utama wanita              : Indavari dan Vandi
Tinggi badan                                    : 88 kubit/lengan (kira-kira 44 m)

10. BUDDHA PADUMUTTARA
Tempat Kelahiran                            : Kota Hamsavati
Nama ayah & ibu                             : Raja Ananda dan Ratu Sujata
Dua siwa utama Thera                     : Devala Thera dan Sujata Thera
Pendamping setia                             : Sumana Thera
Dua siswa utama Theri                    : Amita Theri dan Asama Theri
Pohon Bodhi                                    : Pohon Sala
Siswa awam utama pria                   : Vitinna dan Tissa
Siswa awam utama wanita              : Hattha dan Vicitta
Tinggi badan                                    : 58 kubit/lengan (kira-kira 29 m)

11. BUDDHA SUMEDHA
Tempat Kelahiran                             : Kota Sudassana
Nama ayah & ibu                             : Raja Sudatta dan Ratu Sudatta
Dua siwa utama Thera                     : Sarana Thera dan Sabbakama Thera
Pendamping setia                             : Sagara Thera
Dua siswa utama Theri                    : Rama Theri dan Surama Theri
Pohon Bodhi                                    : Pohon Mahanipa
Siswa awam utama pria                   : Uruvela dan Yasava
Siswa awam utama wanita              : Yasodhara dan Sirima
Tinggi badan                                    : 88 kubit/lengan (sekitar 44 m)

12. BUDDHA SUJATA
Tempat Kelahiran                               : Kota Sumangala
Nama ayah & ibu                               : Raja Uggata dan Ratu Phabavati
Dua siwa utama Thera                       : Sudassana Thera dan Sudeva Thera
Pendamping setia                               : Narada Thera
Dua siswa utama Theri                      : Naga Theri dan Nagasamala Theri
Pohon Bodhi                                     : Pohon Mahavelu
Siswa awam utama pria                    : Sudatta dan Citta
Siswa awam utama wanita               : Subhada dan Paduma
Tinggi badan                                     : 50 kubit/lengan (sekitar 25 m)

13. BUDDHA PIYADASSI
Tempat Kelahiran                              : Kota Sudhannavati
Nama ayah & ibu                               : Raja Sudatta dan Ratu Canda
Dua siwa utama Thera                      : Palita Thera dan Sabbadassi Thera
Pendamping setia                              : Sobhita Thera
Dua siswa utama Theri                      : Sujata Theri dan Dhammadinna Theri
Pohon Bodhi                                      : Pohon Kakhuda
Siswa awam utama pria                     : Sundaka dan Dhammaka
Siswa awam utama wanita                : Visakha dan Dhammadinna
Tinggi badan                                      : 80 kubit/lengan

14. BUDDHA ATTHADASSI
Tempat Kelahiran                              : Kota Sobhana
Nama ayah & ibu                               : Raja Sagara dan Ratu Sudassana
Dua siwa utama Thera                       : Santa Thera dan Upasanta Thera
Pendamping setia                              : Abhaya Thera
Dua siswa utama Theri                      : Dhamma Theri dan Sudhamma Theri
Pohon Bodhi                                     : Pohon Campaka
Siswa awam utama pria                    : Nakula dan Nisabha
Siswa awam utama wanita               : Makila dan Sunanda
Tinggi badan                                     : 80 kubit/lengan

15. BUDDHA DHAMMADASSI
Tempat Kelahiran                              : Kota Sarana
Nama ayah & ibu                               : Raja Sarana dan Ratu Sunanda
Dua siwa utama Thera                       : Paduma Thera dan Phussa Thera
Pendamping setia                               : Revata Thera
Dua siswa utama Theri                      : Khema Theri dan Saccanama Theri
Pohon Bodhi                                      : Pohon Bimbijala
Siswa awam utama pria                     : Subhadda dan Katissaha
Siswa awam utama wanita                : Saliya dan Kaliya
Tinggi badan                                      : 80 kubit/lengan

16. BUDDHA SIDDHATTHA
Tempat Kelahiran                             : Kota Vebhara
Nama ayah & ibu                             : Raja Udena dan Ratu Suphassa
Dua siwa utama Thera                     : Sambala Thera dan Sumitta Thera
Pendamping setia                            : Revata Thera
Dua siswa utama Theri                   : Sivala Theri dan Surama Theri
Pohon Bodhi                                   : Pohon Kanikara
Siswa awam utama pria                 : Suppiya dan Samudda
Siswa awam utama wanita            : Ramma dan Suramma
Tinggi badan                                  : 60 kubit/lengan

17. BUDDHA TISSA
Tempat Kelahiran                          : Kota Khemaka
Nama ayah & ibu                          : Raja Janasandha dan Ratu Paduma
Dua siwa utama Thera                  : Brahmadeva Thera dan Udaya Thera
Pendamping setia                          : Samanga Thera
Dua siswa utama Theri                 : Phussa Theri dan Sudatta Theri
Pohon Bodhi                                 : Pohon Asana
Siswa awam utama pria               : Sambala dan Sirima
Siswa awam utama wanita          : Kisa Gotami dan Upasena
Tinggi badan                                : 60 kubit/lengan

18. BUDDHA PHUSSA
Tempat Kelahiran                        : Kota Kasika
Nama ayah & ibu                         : Raja Jayasena dan Ratu Sirima
Dua siwa utama Thera                 : Surakkhita Thera dan Dhammasena Thera
Pendamping setia                          : Sabhiya Thera
Dua siswa utama Theri                 : Cala Theri dan Upacala Theri
Pohon Bodhi                                : Pohon Amanda
Siswa awam utama pria               : Dhananjaya dan Visakha
Siswa awam utama wanita          : Paduma dan Naga
Tinggi badan                                : 58 kubit/lengan

19. BUDDHA VIPASSI
Tempat Kelahiran                         : Kota Bhandumati
Nama ayah & ibu                          : Raja Bhanduma dan Ratu Bhandumati
Dua siwa utama Thera                  : Khandha Thera dan Tissa Thera
Pendamping setia                          : Asoka Thera
Dua siswa utama Theri                 : Canda Theri dan Candamitta Theri
Pohon Bodhi                                 : Pohon Patali
Siswa awam utama pria                : Punnabbasumitta dan Naga
Siswa awam utama wanita           : Sirima dan Uttara
Tinggi badan                                 : 80 kubit/lengan

20. BUDDHA SIKHI
Tempat Kelahiran                          : Kota Arunavati
Nama ayah & ibu                          : Raja Aruna dan Ratu Phabavati
Dua siwa utama Thera                  : Abhibhu Thera dan Sambhava Thera
Pendamping setia                          : Khemankhara Thera
Dua siswa utama Theri                 : Sakhila Theri dan Paduma Theri
Pohon Bodhi                                 : Pohon Pundarika
Siswa awam utama pria                 : Sirivaddha dan Nanda
Siswa awam utama wanita           : Citta dan Sugutta
Tinggi badan                                  : 70 kubit/lengan

21. BUDDHA VESSABHU
Tempat Kelahiran                         : Kota Anoma
Nama ayah & ibu                         : Raja Suppatita dan Ratu Yasavati
Dua siwa utama Thera                 : Sona Thera dan Uttara Thera
Pendamping setia                         : Upasanta Thera
Dua siswa utama Theri                : Rama Theri dan Samala Theri
Pohon Bodhi                                : Pohon Mahasala
Siswa awam utama pria               : Sottika dan Rambha
Siswa awam utama wanita          : Gotami dan Sirima
Tinggi badan                                : 60 kubit/lengan

22. BUDDHA KAKUSANDHA
Tempat Kelahiran                        : Kota Khemavati
Nama ayah & ibu                         : Brahmana Aggidatta dan Brahmani Visakha
Dua siwa utama Thera                : Vidhura Thera dan Sanjiva Thera
Pendamping setia                         : Buddhija Thera
Dua siswa utama Theri                : Sama Theri dan Campa Theri
Pohon Bodhi                                : Pohon Sirisa
Siswa awam utama pria              : Accuta dan Sumana
Siswa awam utama wanita          :Nanda dan Sunanda
Tinggi badan                                : 40 kubit/lengan

23. BUDDHA KONAGAMANA
Tempat Kelahiran                          : Kota Sobhavati
Nama ayah & ibu                          : Brahmana Yannadatta dan Brahmani Uttara
Dua siwa utama Thera                  : Bhiyyosa Thera dan Uttara Thera
Pendamping setia                           : Sotthija Thera
Dua siswa utama Theri                  : Samudda Theri dan Uttara Theri
Pohon Bodhi                                  : Pohon Udumbara
Siswa awam utama pria                 : Ugga dan Somadeva
Siswa awam utama wanita            : Sivala dan Sama
Tinggi badan                                  : 30 kubit/lengan

24. BUDDHA KASSAPA
Tempat Kelahiran                          : Kota Baranasi
Nama ayah & ibu                           : Brahmana Brahmadatta dan Brahmani Dhanavati
Dua siwa utama Thera                   : Tissa Thera dan Bharadvaja Thera
Pendamping setia                           : Subhamitta Thera
Dua siswa utama Theri                  : Anula Theri dan Uruvela Theri
Pohon Bodhi                                  : Pohon Nigrodha
Siswa awam utama pria                : Sumangala dan Ghatikara
Siswa awam utama wanita           : Vijitasena dan Bhadda
Tinggi badan                                 : 20 kubit/lengan

25. BUDDHA GOTAMA
Tempat Kelahiran                           : Kota Kapilavatthu
Nama ayah & ibu                           : Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya
Dua siwa utama Thera                   : Sariputta Thera dan Mogallana Thera
Pendamping setia                           : Ananda Thera
Dua siswa utama Theri                  : Khema Theri dan Uppalavana Theri
Pohon Bodhi                                  : Pohon Assattha
Siswa awam utama pria                 : Citta dan Hatthalavaka
Siswa awam utama wanita           : Nandamata dan Uttara
Tinggi badan                                   : 18 kubit/lengan


Referensi:
·         Guide to Tipitaka, The Great Chronicle of Buddhas, ITBMU Handout

·         http://seberkassinardharma.blogspot.co.id/

Postingan Unggulan

WAISAK (VESAK): Sejarah, Makna, dan Relevansi dalam Tradisi Buddhis

  WAISAK (VESAK): Sejarah, Makna, dan Relevansi dalam Tradisi Buddhis 1. Definisi dan Nama Hari Raya Waisak Hari Raya Waisak (bahasa Sans...

Postingan Populer