Sejarah Singkat Lagu “Anatta”
Lagu “Anatta”
ciptaan B. Giri Rakkhito M. T merupakan salah satu lagu Buddhis yang
bertema Dhamma mendalam, khususnya tentang ajaran Anatta (tanpa inti
diri). Lagu ini banyak digunakan dalam kegiatan pembinaan umat Buddha,
seperti puja bakti, pembelajaran Dhamma, maupun refleksi batin.
Karya ini
muncul sebagai bagian dari upaya memperkenalkan ajaran inti Buddha melalui media
seni dan musik, sehingga Dhamma tidak hanya dipelajari secara konseptual,
tetapi juga dirasakan dan direnungkan melalui lirik dan melodi.
Dalam tradisi
Buddhis, seni—termasuk lagu—dipandang sebagai sarana upaya (upāya) untuk
membantu makhluk memahami kebenaran sesuai dengan kapasitasnya.
Kaitan Lirik Lagu “Anatta” dengan Ajaran
Dhamma
Lirik lagu Anatta secara jelas
menggambarkan salah satu dari Tiga Corak Umum Kehidupan (Tilakkhaṇa),
yaitu:
- Anicca (tidak kekal)
- Dukkha (penderitaan)
- Anatta (tanpa inti diri)
Fokus utama
lagu ini adalah Anatta, sesuai dengan ajaran Sang Buddha bahwa tidak
ada “aku”, “jiwa”, atau “diri” yang kekal dalam lima kelompok kehidupan
(pañcakkhandha).
1. Anatta sebagai Kesunyataan Akhir
“Anatta itulah sesuatu tanpa aku serta
tanpa inti
Dalam Kesunyataan akhir, tiada makhluk jiwapun pribadi”
Bagian ini selaras dengan ajaran Paramattha
Dhamma, bahwa pada tingkat kebenaran tertinggi hanya ada:
- Nama (batin)
- Rūpa (materi)
Tanpa adanya entitas tetap yang bisa disebut “aku”
atau “jiwa”.
2. Penolakan
Konsep Diri yang Kekal
“Tiada
sesuatu kesatuan benda yang disebut diri
Nan tinggal kekal sepanjang masa namun berubah selalu”
Lirik ini mencerminkan penjelasan Sang Buddha
bahwa:
- Segala sesuatu selalu berubah (anicca)
- Sesuatu yang berubah tidak mungkin menjadi diri
sejati
Ini sejalan dengan ajaran dalam Anatta-lakkhaṇa
Sutta, khotbah kedua Sang Buddha.
3. Manusia sebagai Proses, Bukan Pribadi
Tetap
“Hanya batin dan materi
Bukan makhluk bukan jiwa
Bukan suatu pribadi”
Bagian reff
menegaskan bahwa yang disebut “manusia” hanyalah:
- Proses batin dan jasmani
- Rangkaian sebab dan kondisi
- Bukan entitas kekal
4. Hubungan
Anatta dengan Berakhirnya Samsara
“Bagi yang
melihat kebenaran sejati serta sadar diri
Baginya lenyaplah avijja roda Samsara dapat di atasi”
Ini menunjukkan hubungan langsung antara:
- Pemahaman Anatta
- Lenyapnya avijja (kebodohan batin)
- Terhentinya
penderitaan dan kelahiran kembali (Samsara)
Pemahaman Anatta bukan sekadar teori, tetapi kunci
pembebasan batin.
Kesimpulan Makna Dhamma dalam Lagu
“Anatta”
Lagu Anatta bukan hanya lagu rohani,
tetapi:
- Media perenungan Dhamma
- Sarana pendidikan Buddhis
- Pengingat bahwa kemelekatan pada “aku” adalah
sumber penderitaan
Melalui lirik
yang sederhana namun mendalam, lagu ini membantu umat Buddha mendekatkan
ajaran luhur Sang Buddha ke dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar